• Growing The Future with Agribusiness Entrepreneur

    Oleh:
    Pandu Aditama (Kadep MHD HIPMA IPB 2010)

    Salam Profesi!

    Jumlah penduduk di Indonesia tiap tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, bahkan pada tahun 2010 mencapai angka 237 juta jiwa. Sayangnya, peningkatan jumlah penduduk ini tidak diikuti dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia itu sendiri. Tingkat pengangguran yang sangat tinggi ini diakibatkan jumlah lapangan kerja yang tidak meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki pola pikir untuk mencari lapangan kerja yang jumlahnya jauh lebih sedikit daripada pencari pekerjaan itu sendiri.

    Peran kewirausahaan sangat dibutuhkan untuk ditanamkan khususnya pada generasi muda pada agar mereka memiliki jiwa entrepreneurship yang akan sangat membantu dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Generasi muda harus diberi paradigma baru yakni: “create the job instead of searching for job”. Karena seperti yang diketahui negara yang maju memiliki wirausahawan lebih dari 6% jumlah penduduk, sedangkan jumlah wirausahawan di Indonesia masih cukup rendah atau jika diprosentasekan baru 2% dari jumlah penduduk di Indonesia. Sedangkan persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7%, China dan Jepang mencapai 10% dan yang tertinggi adalah Amenka Senkat sebesar 11,5-12%. Telah terbukti tingkat kemajuan dan keterbelakangan suatu negara tidak terletak pada jumlah penduduk, kekayaan alam, luas wilayah, warna kulit atau suku bangsa, ataulamanya kemerdekaan yang telah dialami, tetapi adalah terletak pada kualitas manusianya.

    Sampai saat ini, sebanyak 82,2 persen lulusan perguruan tinggi bekerja sebagai pegawai. Adapun masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan selama enam bulan hingga tiga tahun. Pengangguran terdidik pun tidak terhindarkan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada Februari 2008 tercatat 9,43 juta penganggur atau sebanyak 8,46 persen dari total penduduk. Pengangguran di tingkat SD-SMP berjumlah 4,8 juta orang, sedangkan di jenjang SMA-universitas mencapai 4,5 juta orang. Sungguh menarik melihat kemauan pemerintah yang akan menyumbangkan 110 miliar untuk pendidikan kewirausahaan di tahun 2009 ini. Dengan pendidikan kewirausaan tersebut diharapkan para lulusan perguruan tinggi dapat mencetak lapangan kerja bukannya mencari lapangan kerja, karena seperti yang kita ketahui pertumbuhan lapangan kerja yang tidak sesuai dengan jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia mengakibatkan sulit dan kerasnya mencari pekerjaan.

    Hal ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia? Bercermin dari kenyataan bahwa Pendidikan Formal baik itu di bangku sekolah maupun Perguruan Tinggi hanya mengajarkan pada penguasaan hard skills. Seorang datang ke kelas, guru menerangkan kemudian pulang dengan membawa segepok ilmu, itupun bagi mereka yang memahami tetapi di sisi lain kita masih kebingungan bagaimana mengaitkan segepok ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

    Merespon hal tersebut, IPB kini memasukkan kata kewirausahaan dalam visinya. Hal ini direalisasikan dengan adanya mata kuliah Pengantar Kewirausahaan pada Tingkat Persiapan Bersama (TPB) yaitu pada tahun pertama setiap mahasiswa yang melakukan studi program sarjana di IPB. Harapannya para mahasiswa IPB memiliki pemahaman mengenai betapa pentingnya kewirausahaan untuk tidak hanya mengembangkan leadership pada individu tapi juga bisa berguna agar dapat mengurangi kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan wilayah, pengembangan lingkungan, dan lain sebagainya. Namun, tidak hanya sampai di situ, karena IPB juga memiliki beberapa program dari bidang kemahasiswaanya untuk merealisasikan visinya itu. Program itu antara lain berupa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kewirausahaan “CENTURY”, Program Kreativitas Mahasiswa, Career and Development Affair, dan bahkan ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa dan alumni IPB yang terjun menjadi wirausaha sukses, seperti Elang Gumilang yang sukses dengan bisnis propertinya ataupun Ance Trio Marta dengan pembenihan ikan bawalnya.

    Di dalam IPB terdapat Departemen Agribisnis yang yang memberikan pendidikan agribisnis, baik dalam pengertian usaha (firm) maupun sistem (integrasi antar berbagai firm) yang melalui pendekatan business school yang menekankan pada pemahaman terhadap proses bisnis dan pelakunya. Departemen ini memiliki mandat yaitu pengembangan ilmu dan wawasan bisnis bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan melalui pendekatan sistem dan kewirausahaan. Kompetensi bagi mayor maupun minor Agribisnis antara lain memiliki kemampuan menciptakan dan mengelola agribisnis pertanian, perikanan, dan peternakan secara mandiri (wirausaha), memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola berbagai bidang agribisnis, dan memiliki kemampuan mengembangkan kebijakan publik yang terkain dengan pembangunan agribisnis sebagai aparat pemerintah, pendamping petani, dan pengusaha kecil agribisnis serta sebagai konsultan dan atau peneliti dibidang agribisnis.

    Departemen Agribisnis adalah salah satu departemen yang juga serius dalam menanamkan jiwa-jiwa kewirausahaan melalui setiap mata kuliahnya. HIPMA sebagai organisasi keprofesian juga memiliki peran penting dalam mengembangkan kewirausahaan di dalam lingkup departemen. Hasilnya, cukup banyak mahasiswa Agribisnis yang kini telah memiliki usaha sendiri melalui program-program yang diselenggarakan IPB.

    MHD (Money Hunting Department) sebagai divisi di bawah HIPMA berusaha mengimplementasikan apa yang menjadi mandat Departemen Agribisnis khususnya pada bidang kewirausahaan melalui kegiatan-kegiatan yang mampu memicu dan mengembangkan jiwa kewirausahaan seperti Klub Kewirausahaan, Warung HIPMA, dan Bazar. Harapan kami adalah HIPMA dapat menjadi wadah bagi mahasiswa Agribisnis untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga dikemudian hari dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Salam wirausaha! AGB, Growing The Future!

    Post Tagged with ,
Comments are closed.