• Kelembagaan Mahasiswa: Paradoks Kuantitas vs. Kualitas SDM


    Oleh: Hata Madia Kusumah (Ketua Umum HIPMA IPB 2010)

    Salam Profesi!

    Tujuan dilaksanakannya sebuah kegiatan (kegiatan mahasiswa-Red) adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk berpartisipasi. Selain itu atas nama upaya memberikan pengalaman dan softskill bagi mahasiswa, banyak lembaga kemahasiswaan membuka acara sakral berupa open recruitment bagi calon panitia pelaksananya. Akan tetapi, banyak kasus yang terjadi adalah trade off antara banyaknya jumlah panitia dengan keberhasilan penyelenggaraan kegiatan.

    Kondisi empirik IPB

    Memang tidak bijak jika menanggungkan semua kegagalan kepada faktor gemuknya struktur SDM sebuah kepanitiaan. Misalnya sebuah kegiatan dianggap gagal karena kurangnya peminat untuk jadi peserta akibat banyaknya kegiatan serupa dengan tema yang sama sehingga terkadang jumlah panitianya hampir sama dengan jumlah peserta yang hadir. Tema yang kurang menarik dan waktu yang bentrok dengan jadwal akademik juga dapat menjauhkan calon peserta dengan kegiatan. Akan tetapi jika dilihat dari kegagalan sebuah kegiatan dari aspek efektivitas kerja, loyalitas panitia, efisiensi penggunaan anggaran, dan value added yang dapat diberikan kepada panitia jelas kita dapat mendakwakannya kepada faktor gemuknya struktur kepanitiaan. Kepanitiaan yang gemuk biasanya mendorong panitia saling mengandalkan sehingga menyebabkan lambat/gagal tercapainya target divisi-divisinya. Jika hal itu dibiarkan biasanya menyebabkan panitia merasa jauh dari tujuan kegiatan sehingga loyalitasnya rendah. Banyak kasus acara yang ditinggalkan oleh panitianya akibat tidak jelasnya job description dan kurangnya loyalitas pada kegiatan tersebut. Selain itu, gemuknya kepanitiaan jelas akan membebani anggaran kegiatan yang akan dilaksanakan. Dengan kondisi seperti itu, sulit rasanya jika kita mengharapkan setiap panitia memperoleh pengembangan softskill dan value added yang merata setelah kegiatan berakhir sesuai dengan tujuan normatif yang sering kita junjung tinggi itu.

    Paradigma kami

    Fenomena ini dapat kita analogikan juga dengan kehidupan lembaga kemahasiswaan itu sendiri. Sebuah lembaga kemahasiswaan yang berpikir modern tidak lagi mengutamakan besarnya jumlah pengurus. Akan tetapi, hal yang menjadi fokus utama adalahbagaimana tim yang ada dapat bekerja efektif dan efisien dengan kemampuan multi-tasking (tugas yang berbeda dan beragam). Prinsip ini memang bukan hal baru, HIPMA IPB 2010 telah menyadari dan berusaha menerapkannya dalam setiap kesempatannya. Misalnya struktur kepengurusan HIPMA IPB hanya berjumlah 43 orang (periode sebelumnya 51 orang). Selain itu, pilot project juga kami terapkan pada kepanitiaan AGRIseason 2010. Ini menjadi bukti empiris bahwa dengan jumlah 15 orang panitia pun kita dapat menggelar sebuah acara yang levelnya biasa dikerjakan oleh 30-40 orang panitia di kelembagaan IPB umumnya. Harapan kami dari Badan Pengurus Harian (BPH) HIPMA IPB 2010, prinsip ini dapat menjadi paradigma berfikir seluruh pengurus khususnya dan mahasiswa Agribisnis IPB pada umumnya. Mari kita buktikan bahwa tiidak perlu lagi ada perebutan panitia ketika open recruitment kegiatan. Jika kita mau kita pasti mampu. Kita juga bisa! AGB, Growing The Future!

    Post Tagged with ,
Comments are closed.