• OBSESI 2

    PRESS RELEASE

    Obsesi 2 vs Kajian Kewirausahaan

    Senin, 25 Maret 2013

     

     

    Mosi: pelarangan impor bawang sebagai peluang usaha berkembangnya usaha bawang lokal

    Pro: Deni, Dandy, Azwar anas (AGB 48)

    Kontra: Putra, Alias, Aldi (AGB 48)

     

    Pihak Pro:

     

    Pengantar :

    Mahalnya harga bawang dikarenakan adanya permainan oleh importir. Petani tidak bisa menjual di pasar karena harga yang akan dijual terlalu tinggi. Para pedagang harus berfikir dua kali dalam menanggapi hal tersebut. Permainan importir merugikan petani dan konsumen. Kebijakan impor harus ditekan agara petani bisa belajar lagi dalam pengusahaantani mereka. Meskipun tidak terjadi dalam jangka panjang, masyarakat harus lebih mandiri dalam hal penyediaan pangan. Selain itu diperlukannya kerjasama dalam hal pengembangan produk lokal dengan LIPI atau badan-badan lainnya.

     

    Adanya permainan importir yaitu jika petani lokal panen harganya akan menjadi murah. Jika seperti itu maka akan merugikan petani lokal, sedangkan importir seolah memiliki kekuasaan dalam hal pengendalian harga.

     

    Ketersediaan produk dalam negeri merupakan masalah yang krusial. Dalam pemenuhan pasar dalam negeri, bukan impor solusinya tetapi perbaikan infrastruktur pertanian. Impor tidak solutif karena kita butuh kemandirian pangan. Kita harus percaya pada petani lokal, bahwa produksi bawang merah bisa dilakukan swasembada.

    Kesimpulan: Ketika produk impor masuk, konsumen akan lebih menyukai produk impor daripada lokal, sehingga impor bukan merupakan solusi untuk meningkatkan gairah petani lokal untuk berproduksi lebih baik lagi.

     

    kontra:

    Pengantar:

    Impor bisa dilakukan karena: pertama, adanya perjanjian CAFTA yaitu suatu negara bisa melakukan ekspor/impor ke negara lain. Kedua, kebutuhan bawang di Indonesia tinggi karena usaha kuliner banyak. Ketiga, program-program tidak berjalan baik di Indonesia dalam hal pengelolaan usahatani. Bawang tidak bisa ditanam di sembarang tempat, di Indonesia hanya ada pada daerah tertentu saja. Jika impor di stop maka harga bawang akan naik, sehingga impor ini tidak boleh dilarang. Yang terjadi saat ini adalah bawang impor dari luar negeri ditahan, sehingga dipasar langka dan menyebabkan harganya naik.

     

    Pada petani lokal tidak semua daerah bisa ditanam. Pada petani usaha sekala kecil dengan infrastruktur yang kurang baik, masalah pendidikan yang masih rendah, serta masih menggunakan cara tradisional, maka secara kualitas dan kuantitas akan kalah dengan impor. Jadi impor bukanlah jalan yang buruk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, karena setiap negara memiliki keunggulan absolute dan komparatif masing-masing. Selain itu pembuat kebijakan juga telah membuat persyaratan-persyaratan untuk barang yang masuk dari luar negeri, sehingga kebijakan impor sah saja untuk dilakukan.

     

    Dari sisi lain kita lihat bahwa petani lokal dilapangan pola pikirnya ketika surplus berpikir bagaimana bawang bisa di salurkan ke tempat yang menguntungkan. Seharusnya petani harus memiliki pola pikir yang berhubungan dengan penyesuaian harga. Kita tidak bisa melepaskan diri dengan negara lainnya, karena kita telah tercatat dalam perjanjian CAFTA.

    Pengantar: Kriteria melakukan impor yaitu ketersediaan dalam negeri kurang, sarana produksi yang kurang baik di dalam negeri, serta konsumsi terhadap produk yang bersangkutan sangat banyak, oleh karena itu impor merupakan tindakan yang sah saja untuk dilakukan.

     


     

    DOKEMENTASI KEGIATAN

     

     

Comments are closed.