• AEC 2015, Peluang Atau Ancaman?

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2014 di RK AGB 301 telah diadakan acara OBSESI yang kedua pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Tujuan diadakannya OBSESI adalah untuk memfasilitasi mahasiswa dalam memperbarui informasi mengenai isu dan berita di dalam dunia agribisnis yang sedang hangat dibicarakan. Dalam OBSESI kali ini, beberapa delegator dihadirkan dari HIPMA, BEM KM, BEM FEM, SES-C. Para delegator tersebut dipandu oleh Alfi Irfan (ESL46) , Mapres FEM tahun 2012 berdikusi mengenai tema “AEC 2015, Peluang atau Ancaman”. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Khalifardhi Ikhsan dan Aninda Nadya Bilqis, kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Asep Abidin (AGB49).

    Setelah itu, sesi pertama diskusi dimulai dengan tanggapan dari masing-masing delegator mengenai kesiapan Indonesia saat ini dalam rangka menghadapi ASEAN Economic Community pada tahun 2015. Delegator dari BEM KM mengatakan bahwa neraca Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Lalu pemikiran yang sama juga dikemukakan dari delegator HIPMA yang menyatakan bahwa pada tahun 2013 laju impor lebih besar daripada ekspor sehingga barang dalam negeri tidak memiliki bargaining position jika dibandingkan dengan produk impor. Delegator dari SES-C juga menguatkan pendapat kedua delegator sebelumnya dengan menyatakan bahwa Indonesia belum siap menghadapi AEC 2015 karena pada perkembangan industri pertanian syariah, segi pembiayaan dan pengembangan SDM masih kurang dalam melakukan persiapan. Delegator dari BEM FEM menyatakan bahwa Indonesia kalah saing dalam melakukan efisiensi produksi dengan negara tetangga sehingga mereka bisa menjual produknya dengan harga yang lebih murah dibandingkan Indonesia.

    Dalam sesi kedua, diputar beberapa video singkat dan penjelasan mengenai betapa pentingnya kemampuan Bahasa Inggris oleh Alfi Irfan. Menurutnya, dengan perkembangan zaman dan teknologi membuat tantangan di masa depan semakin besar. Hal ini tentunya berdampak terhadap penggunaan bahasa asing di dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang tidak bisa menggunakan Bahasa Inggris pada tahun 2030 sama halnya dengan orang yang tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia saat ini. Selain kemampuan bahasa asing, hal penting untuk dikembangkan adalah menjalin network dari negara lain. Hal menarik yang dapat diambil dari sesi kedua adalah “The slow and the steady, win the race. But the fast and the consistent will beat the slow and steady. We have to identify our core competence and start to play our role. But, its good to be good individually but you will perform better if you can work in team”.

    Sesi terakhir adalah sesi tanya jawab. Ravitia Dewi (AGB 48) bertanya bagaimana caranya memulai aksi untuk mempersiapkan diri menuju masa depan yang penuh tantangan. Alfi Irfan menjelaskan bahwa mahasiswa adalah agent of change yang bisa menjembatani antara rakyat dan pemerintah. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan individu kita, lalu jangan lupa untuk menyebarkan pengetahuan tersebut ke orang lain. Setelah sesi tanya jawab berakhir, acara dilanjutkan dengan pembagian sertifikat untuk masing-masing delegator oleh Ketua HIPMA, Salman Fajri (AGB48). Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat untuk Alfi Irfan oleh Ketua CCDD, Cahyo Setyo Utomo (AGB48). Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan mahasiswa yang hadir dapat segera mempersiapkan diri dan menyebarkan pengetahuannya dalam menghadapi ASEAN Economic Community yang sudah semakin dekat.

    Post Tagged with , , , , , , ,

Leave a Reply